AIR SUCI YANG TAK PERNAH SURUT DI UMBUL JUMPRIT

Wisata Umbul Jumprit
Wisata Umbul Jumprit / foto: idntrip.com

Ada satu wisata umbul di Temanggung yang konon hanya diketahui olah kalangan tertentu saja yaitu Umbul Jumprit.

Umbul Jumprit menjadi tempat suci bagi umat Budha di Indonesia yang terletak di lereng Gunung Sindoro. Sejak tahun 1987, mata air Umbul Jumprit menjadi tempat mengambil air untuk keperluan Waisak di Candi Borobudur karena diteliti memiliki kualitas spiritual yang baik. Umat Budha menggunakan air dari Umbul Jumprit sebagai air suci pada upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Biasanya, tiga hari sebelum perayaan Waisak di Candi Borobudur, Sangha mengambil air dari Umbul jumprit untuk digunakan dalam ritual. 

Sendang Jumprit - Mencari Ketenangan Sembari Merasakan Segarnya Air Telaga  yang Terus Mengalir - Halaman all - Tribun Travel

Pada tahun 2015, terdapat delapan majelis yang mengikuti ritual di mata air ini, yaitu Sangha Theravada Indonesia, Tantrayana, Tridharma, Kasogatan, Mahayana, Mapanbumi, Madhatantri, dan Mahanikaya. Tidak kesemuanya merupakan Majelis Sangha, melainkan juga dari agama Khonghucu.

Bagi Umat Budha, air Umbul Jumprit dianggap sebagai air suci pembersih jiwa manusia. Harapan pengambilan air suci ini untuk seluruh manusia di dunia agar sadar bahwa jiwa ini bagaikan jiwa Sang Buddha. Penuh cinta kasih tanpa memandang aliran dan agama.

Terletak di ketinggian 2.100 mdpl dari Gunung Sindoro, Umbul Jumprit terletak sekitar 26 kilometer di sebelah barat laut Kota Temanggung. Mata air ini tidak pernah kering meskipun pada saat musim kemarau dan menjadi sumber air bagi Sungai Progo. Mata air ini berada di bawah sebuah gua dan dinaungi pohon besar yang teduh.

Sejarah Umbul Jumprit
Kawasan mata air ini dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit, yaitu seorang ahli nujum Kerajaan Majapahit, yang muncul dalam Serat Centhini. Lokasi ini disebut sebagai tempat petilasan Ki Jumprit, yang konon juga dipercaya sebagai salah satu putera Prabu Brawijaya. Ia meninggalkan keraton untuk bertapa dengan ditemani seekor monyet bernama Ki Dipo.

Pada akhir Kerajaan Majapahit dan awal Kerajaan Demak, perseteruan politik antara ajaran Siwa-Buddha dan agama Islam yang baru masuk dan menyebar di tanah Jawa menyebabkan sebagian penganut Siwa-Buddha yang kalah dan tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Demak menyebar dan mencari tempat terpencil. 

Pangeran Singonegoro yang merupakan salah satu penasihat Prabu Brawijaya V meninggalkan keraton bersama dengan dua pengawal dan seekor monyet putih bernama Ki Dipo menuju mata air yang kini dikenal dengan nama Umbul Jumprit. Pangeran Singonegoro kemudian memiliki gelar Panembahan Ciptaning dan ia bermeditasi di lokasi Umbul Jumprit hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana. Ki Dipo terus menunggui makam tuannya sementara kedua pengawalnya berjalan menuju barat sebelum akhirnya kembali lagi ke makam hingga akhir hayat mereka.

Sebelum tahun 1980,lokasi Umbul jumprit hanya diketahui kalangan tertentu. Pada awal 1980an, Umbul Jumprit mulai ramai dikunjungi peziarah yang mengunjungi makan Ki Jumprit dan mandi berendam di mata airnya. Akhirnya pada tahun 1987, Pemkab Temanggung menetapkan kawasan ini sebagai kawasan wanawisata atau "wisata yang tujuan atau sasarannya adalah hutan".

Ritual Kungkum 
Umbul Jumprit akan ramai dkunjungi pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dan  pada tanggal 1 Sura. Pengunjung datang untuk melakukan ritual meditasi dan berendam di mata air Umbul Jumprit. Suatu kelompok spiritualis meyakini bahwa mandi di Umbul Jumprit dapat membersihkan seseorang dari bekas-bekas gangguan makhluk gaib atau akibat mempelajari ilmu hitam.

Umbul Jumprit - Harga Tiket Masuk & Spot Foto Terbaru 2022

Yang unik dari ritual kungkum, para pengunjung / peziarah akan membuang celana dalam mereka selesai kungkum sebagai symbol membuang sial. Mereka meyakini rezeki baru akan datang. Selain kungkum para pengunjung akan membasuh wajah mereka, hal in idiyakini air Jumprit bisa membuat wajah awet muda, enteng rejeki dan enteng jodoh.

Lokasi semadi terletak di atas gua dan di dalamnya terdapat sebuah patung kera kecil berlumut yang merupakan patung dari Ki Dipo atau kera peliharaan Pangeran Singonegoro. Umbul Jumprit diresmikan oleh pemerintah pada tanggal 18 Januari 1987 dan ditetapkan sebagai wanawisata di Temanggung dan dibuka secara umum.

Wisata umbul Jumprit terletak di Jl. Ngadirejo, Jumprit, Purbosari, Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Jika ingin berkunjung ke tempat in kamu cukup membayar Rp 5rb sebagai tiket masuknya.


 


LOKASI