BANGUNAN KERAMAT DI TENGAH JALAN KOTA DI PURWOKERTA : YANG MEMINDAHKAN AKAN CELAKA

Makam di tengah jalan di Purwokerto.
Makam di tengah jalan di Purwokerto. / Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Jika umumnya suatu bangunan ada di pinggir jalan, berbeda dengan bangunan dengan ukuran 2,5 m x 1,2 m yang ada di tengah jalan sebuah pertigaan di Jalan Raga Semangsang kota Purokerto, Banyumas.

Bagi warga Banyumas tidak asing dengan bangunan tersebut, namun untuk warga pendatang pasti pemasaran bangunan apakah itu, dan mengapa Letaknya berada di tengah jalan?

Bangunan dengan tinggi 180 meter itu merupakan sebuah makam yang menggunakan tembok batu bata tebal seperti zaman dulu mengelilinginya. Ada satu pintu masuk kecil berukuran 70 cm yang terbuat dari besi. Sedangkan di dalam terdapat bekas pembakaran dupa.

Kisah Makam Tua di Tengah Jalan Purwokerto yang Tak Bisa Dipindah -  Regional Liputan6.com

Lokasinya berada di tengah jalan, sebuah pertigaan di Jalan Raga Semangsang. Tempat itu berjarak sekitar 200 meter dari timur Alun-alun Kota Purwokerto, masuk Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur.

Sudah berada sejak zaman para raja, ternyata makam ini tidak dipindahkan karena upaya pemerintah yang selalu gagal. Kabarnya para petinggi daerah didatangi pemilik makam ini dalam mimpinya dan menyatakan bahwa sosok ini tidak ingin pindah. Dan menurut cerita masyarakat sekitar bangunan tersebut adalah makam Ragasemangsang.

Carita Mistis Makam Ragasemangsang
Tidak ada yang kapan tepatnya bangunan yang berada di Kelurahan Sokonagara ini dibangun. Siapa Ragasemangsang itu juga tidak banyak warga yan mengetahui secara persis. Dan sampe sekarang ada berbagai versi cerita mengenai asal usul makam tersebut.

Versi 1
Makam tersebut merupakan makam seorang tokoh sakti mandraguna bernama Ragasemangsang.  Dalam Bahasa Jawa Ragasemangsang mengandung arti badan yang tersangkut di pohon.

Suatu ketika Ragasemangsang bertarung dengan Kyai Pekih yang memiliki kesaktian serupa. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Ragasemangsang. Raden Pekih kalah oleh Ragasemangsang meskipun tubuhnya telah tercabik-cabik oleh senjata namun kembali menyatu setiap kali menyentuh tanah. 

Akibat kalah ilmu, akhirnya Raden Pekih tewas dalam adu kesaktian tersebut. Tubuh Kyai Pekih digantung di sebuah pohon yang tidak jauh dari bangunan yang sekarang berada.

Versi 2
Bangunan tersebut merupakan makam pejuang di zaman penjajahan. Pejuang tersebut bersembunyi di pohon beringin besar ketika terluka dalam peperangan. Lalu ketika meninggal dimakamkan di tengah jalan itu.

Nama Ragasemangsang sendiri secara harfiah berarti ‘Tubuh Tergantung’, pun didapat dari kejadian tersebut. Meskipun sudah tidak ada nisan dan gundukan tanah khas kuburan, Makam Ragasemangsang tetap dibiarkan eksis di pertigaan jalan ini karena adanya sebuah pantangan untuk mengusik makam tersebut.

Mitosnya, bila makam ini dibongkar atau dipindahkan, maka akan timbul malapetaka yang berujung kematian tragis.


 


LOKASI