BANGUNAN YANG MENJADI SAKSI BISU KEMERDEKAAN INDONESIA DI JAWA TENGAH

Lawang Sewu Semarang.
Lawang Sewu Semarang. / (Foto: dok PT Kereta API Wisata)

Tahun ini Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke 76. Tidak ada salahnya kita sebagai warga negara Indonesia mengenang kembali jasa - jasa para Pahlawan yang berjuang dan gugur demi Kemerdekaan Indonesia.

Selain jasa para Pahlawan, kita juga dapat mengenangnya dengan mengetahui tempat - tempat yang menjadi saksi bisu Kemerdekaan Indonesia.

Lawang Sewu, Jawa Tengah

Nama Lawang Sewu tentunya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Gedung bersejarah ini terletak di Semarang, Jawa Tengah. 

Pada masa itu, yaitu sekitar tahun 1904 gedung ini dibangun dan selesai pada tahun 1907. Lawang Sewu dulunya merupakan kantor untuk Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau yang biasa dikenal sebagai NIS. Gedung ini terletak di Bundaran Tugu Muda.

Pada awalnya, kegiatan administrasi dilakukan di kantor Stasiun Semarang NIS. Namun, dengan bertambahnya waktu juga mengakibatkan perkembangan jalur kereta di Semarang menjadi semakin pesat dan mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan personil teknis dan tenaga administrasi yang lebih besar sehingga kantor NIS dianggap tidak lagi memadai. 

Hal ini lah yang kemudian membuat Belanda menyewa beberapa bangunan untuk dijadikan kantor NIS. Setelah melewati beberapa pertimbangan, akhirnya dibangunlah Lawang Sewu yang akhirnya dijadikan kantor pusat NIS yang luas dan memadai.

Gedoeng Djoeang ’45 Solo

Bangunan yang berlokasi di Jalan Mayor Sunaryo, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon ini memiliki catatan sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.

Gedung DHC ’45 ini didirkan pada 1880 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada awalnya bangunan ini digunakan sebagai bangunan sekolah dan asrama sebagai pelengkap kompleks militer Benteng Vastenburg yang berada tak jauh di depannya.

Di masa pendudukan Jepang, gedung tersebut sempat dikuasai oleh pasukan Nipon dengan sebutan Senkokan. Setelah berhasil direbut kembali pada masa kemerdekaan, secara berturut-turut gedung tersebut digunakan sebagai panti asuhan, markas kesatuan TNI, kantor pengurus DHC ’45, hingga seperti sekarang ini.

Kini bangunan bersejarah di Solo ini dimiliki Kementerian Pertahanan dan masuk dalam Bangunan Cagar Budaya (BCB) di Kota Solo.

Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto

Pada tahun 1946, gedung RRI Purwokerto sebagai gedung pertemuan sekaligus gedung bioskop City Theater dikenal dengan nama gedung Societeit. Tanggal 4 Januari 1946 petang, atau 100 hari setelah tentara Inggris mendarat, gedung Societeit digunakan oleh Tan Malaka untuk menggelar rapat politik membangun Persatuan Perjuangan di Purwokerto dalam upaya menyerang politik diplomasi pemerintah dan untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen.

Pemilihan Kota Purwokerto kala itu oleh Tan Malaka untuk mendapatkan Kemerdekaan, karena Purwokerto dianggap merupakan basis kuat, maka dari itu Tan  Malaka memilihnya sebagai tempat kongres para pemimpin berbagai organisasi. Di mana Murba saat itu masih merupakan gerakan rakyat jelata dan belum menjadi partai. Tan Malaka menggagasnya buat melawan kapitalisme dan penjajahan serta untuk menggapai kesejahteraan.

 

 

 


LOKASI