Benteng Portugis, yang berada di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menawarkan pengalaman wisata sejarah yang memikat sekaligus misterius. Terletak sekitar 45 kilometer dari pusat Jepara, benteng ini menjadi saksi peninggalan kolonialisme Portugis yang strategis dan penuh mitos di masa lalu. Karena belum tersedia transportasi umum yang langsung menuju lokasi ini, pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai benteng yang berada di puncak bukit batu tepi laut, tepat menghadap Pulau Mondoliko.
Pantai Benteng Portugis / Google Maps (Nathannael Kresna Yudha)
Sejarah dan Strategi Militer di Era Sultan Agung
Benteng Portugis pertama kali didirikan pada tahun 1632 atas kerja sama antara Portugis dan Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pada saat itu, Jayakarta (sekarang Jakarta) sudah dikuasai oleh VOC sejak 1619, yang memicu kekhawatiran Sultan Agung. Menghadapi kekuatan VOC yang superior, Sultan Agung menjalin aliansi dengan Portugis, musuh VOC lainnya, dan mengizinkan mereka membangun benteng pertahanan yang disebut Benteng Portugis untuk melancarkan serangan dari laut.
Legenda Pusaran Air Mandalika
Namun, keberadaan Portugis di benteng ini tidak berlangsung lama. Sebuah mitos lokal menceritakan tentang pusaran air di Selat Mandalika yang dipercaya sebagai "gerbang gaib" Keraton Luweng Siluman, yang dipimpin oleh Siluman Bajul Putih. Menurut legenda, pusaran ini akan menarik orang-orang berkulit putih ke dasar laut. Mitos ini dipercaya sebagai penyebab kepergian bangsa Portugis dari benteng tersebut.
Peran Benteng Portugis pada Masa Pendudukan Jepang
Benteng ini kembali diaktifkan oleh Jepang saat mereka menduduki Indonesia pada Perang Dunia II. Jepang memperkuat benteng sebagai titik pengawasan strategis untuk memantau aktivitas laut. Mereka membangun kembali menara benteng yang telah runtuh dan menambah ketinggiannya, serta membuat lorong bawah tanah yang menghubungkan benteng dengan pantai untuk memudahkan pergerakan pasukan.
Pantai Benteng Portugis / Google Maps (Nathannael Kresna Yudha)
Bangunan Fisik dan Keunikan Arsitektur Benteng
Hingga kini, Benteng Portugis masih menyimpan sisa-sisa bangunan bersejarahnya, termasuk pagar batu padas yang berfungsi sebagai dinding pelindung. Benteng ini memiliki tiga pintu masuk yang terletak di sisi selatan, barat, dan utara. Pada bagian utara, tembok benteng ini memiliki tinggi sekitar 160 cm, sementara sisi timurnya mencapai 200 cm.
Panduan Wisata ke Benteng Portugis
Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yaitu Rp3.000 untuk hari biasa dan Rp5.000 pada akhir pekan atau hari libur nasional, Benteng Portugis bisa menjadi destinasi menarik bagi pengunjung yang ingin menyusuri jejak kolonialisme di tanah Jawa. Benteng ini buka setiap hari mulai pukul 07.00-20.00 WIB. Di akhir pekan atau hari libur nasional, pengunjung sering memadati area ini untuk menikmati pemandangan laut dan mengabadikan momen berharga dengan latar sejarah yang kental.
Benteng Portugis / Google Maps (Metrika Indra Buana)
Selain nilai sejarahnya, keindahan pemandangan pantai di sekitar Benteng Portugis turut menambah daya tarik lokasi ini. Benteng Portugis tidak hanya mengundang para penggemar sejarah, tetapi juga mereka yang ingin menikmati keindahan alam khas pesisir Jawa Tengah.
Baca Juga :