BORDIR ICHIK KHAS KUDUS YANG SUDAH MENJADI BAGIAN HIDUP RUCHAYAH

Ruchayah menunjukkan sejumlah kebaya bordir karyanya.
Ruchayah menunjukkan sejumlah kebaya bordir karyanya. / (Tribun-Pantura.com/Rifqi Gozali)

Bordiran khas Kudus dikenal juga sebagai bordir icik. Icik sendiri berasal dari kata ‘nricik’ yang berarti detail benang yang sangat kecil, panjang, dan padat. Perbedaannya dengan bordir yang ada di daerah lain adalah penggunaan mesinnya yang masih manual bukan dengan juki atau komputer. 

Mengenal Sosok Ruchayah, Legenda Bordir Ichik Khas Kudus, Setia Berkarya  hingga Usia Senja - Tribun-pantura.com

Karena masih dikerjakan secara manual hasil produknya eksklusif dengan ciri kerancang yang kecil-kecil (detail), halus, dan tebal1. Bordiran Kudus dapat dikatakan sebagai salah satu kerajinan yang masih bertahan hingga sekarang dibandingkan dengan kerajinan khas Kudus lainnya seperti ukir Kudus.

Adalah seorang wanita Ruchayah yang sudah menjadikan border ichik sebagai bagian dari hidupnya. Bordir ichik sudah diturunkan dari orang tuanya sejak kecil, dan tahun 1962 Ruchayah telah  memulai usaha border meski saat itu usianya masih sangan belia.

"Anak zaman dulu kan hanya ngaji dan ikut membantu orangtua. Membantu orangtua itu saya diajari bordir," ujar Ruchayah saat ditemui di kediamannya di RT 2/RW 2 Desa Janggalan, Kecamatan Kota Kudus.

Meski saat ini usianya hampir memasuki kepala tujuh dan pendengarannya sudah tidak normal lagi, Ruchayah masih setia menekuni usaha border dibantu dengan anak kelimanya, Sunaifah. Ruchayah hanya sebagai pengarah, utamanya terkait motif dan pola bordir yang harus dikerjakan oleh anak buahnya.

Usaha yang dirintis semenjak belia pernah mengalami masa pasang surut. Dulu Ruchayah pernah memiliki ratusan pekerja. Kini usahanya masih berjualan meski hanya dengan 30 pegawai.

Ruchayah idak pernah tergiur untuk menggunakan alat modern. Alat border ichik masih setia dia pakaim yaitu mesin jahit kayuh yang dimodifikasi. Sementara saat dioperasikan, mesih itu akan mengeluarkan suara "cihik - ichik". 

Ruchayah memiliki alasan sendiri untuk tidak beralih ke mesin modern, dia ingin mempertahankan nilai border yang dibuatnya benar - benar karya dari tangan terampil. Ada ratusan pola dan motif yang telah diproduksi usaha bordir milik Ruchayah yang diberi merk Cahaya Indah. Pola dan motif itu keluar secara genial dan murni dari pikiran Ruchayah.

Meski kini usaha bordirnya tak lagi seramai dahulu. Namun masih tetap bertahan.

Ruchayah sudah punya langganan sendiri. Biasanya produknya dipasarkan di Solo dan Bandung. Bordir buatannya juga pernah terjual sampai Medan, bahkan Malaysia.

Dalam satu karya bordir yang dikerjakan, yang menjadi khas bordir ichik buatan Ruchayah karena terdiri dari komposisi minimal tujuh benang dengan warna berbeda.

Paling banyak sembilan benang. Di balik kerumitannya, tentu ada harga yang sesuai dengan hasil karya yang dibuat oleh tangan-tangan terampil. Untuk membuat satu karya bordir utuh, membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Paling lama bisa sampai 1,5 bulan.

"Untuk harga, bordir paling sederhanya Rp200 ribu dan paling mahal Rp3,5 juta," tutur Sunaifah. 

Artikel ini telah tayang di Tribun-Pantura.com dengan judul Mengenal Sosok Ruchayah, Legenda Bordir Ichik Khas Kudus, Setia Berkarya hingga Usia Senja, 


 


LOKASI