CAGAR BUDAYA SITUS NGLORAM PURBALINGGA YANG KONDISINYA KINI MEMPRIHATINKAN

Pundeng Ngloram di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Masyarakat luar daerah setempat mengenalnya dengan sunan ngudung.
Pundeng Ngloram di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Masyarakat luar daerah setempat mengenalnya dengan sunan ngudung. / (Nuranibicara.com/Ibrahim)

Blora adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Kota Blora ini berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Rembang, di sebelah timur dan selatan dengan Kecamatan Jepon, di sebelah barat dengan Kecamatan Banjarejo dan Kecamatan Tunjungan. 

Ada sebuah cagar budaya di Blora yang diyakini sebagai peninggalan era kerajaan Lwauram, Cagar Budaya Situs Ngloram. Terletak di desa Ngloram Kecamatan Cepu, situs ini merupakan sebuah peninggalan sejarah yang membuktikan kekuatan politik Blora pada abad XI Masehi. ketika itu, Lwaram yeng merupakan sekutu kerajaan maritim terbesar di Indonesia berhasil menaklukkan kerajaan Medang dengan mengalahkan raja terakhirnya, Dharmawangsa Teguh.

Penduduk setempat menyembut situs itu sebagai punden Nglinggo dan Punden Ngloram. Situs ini berukuran sekitar 100 x 100m yang berada pada lahan kosong yang terletak di pinggiran pemukiman penduduk dan areal persawahan. Situs ini terdapat tumpukan batu yang berundak, digundukan teratas terdapat makam yang tidak diketahui namanya. 

Penduduk setempat meyebutnya dengan Punden Nglinggo. Di bawahnya terdapat tumpukan bata yang membatasi punden tersebut dengan bidang kosong. Di sebelah kiri agak ke bawah terdapat gundukan bata yang disebut dengan Punden Ngloram. Sebuah prasasti menyebutkan bahwa situs ini disebut juga Situs Wura-wari yang berkaitan dengan Haji Wura-wari. 

Haji Wura-wari adalah penguasa bawahan yang pada tahun 1017 menyerang Kerajaan Mataram Hindu. Saat itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Timur. Serangan dilakukan ketika pesta pernikahan putri Darmawangsa Teguh dengan Airlangga yang juga keponakan raja sedang dilangsungkan.

Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-wari. Namun sebelumnya Haji Wura-wari terlebih dahulu menyerang Airlangga sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari Keratonnya di Watan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Kab. Pasuruan, Jawa Timur). 

Serangan balik Airlangga, yang ketika itu sudah dinobatkan sebagai menggantikan Darmawangsa Teguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman. 

Temuan situs itu memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1041/1042 M) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Boechori menyebutkan, Haji Wura-wari mijil sangke lwaram. Mijil berarti keluar (muncul dari). Hasil analisis toponim (nama tempat), kemungkinan nama Lwaram berubah menjadi Desa Ngloram sekarang. Pelesapan konsonan ‘w’, penyengauan di awal kata, dan perubahan vokal ‘a’ menjadi ‘o’ menjadikan nama Lwaram menjadi Ngloram.

Meskipun telah terdaftar sebagai situs cagar budaya yang dilindungi, tapi kondisi di lapangan sangat memprihatinkan dan tak terawat serta terasa tintrim atau menakutkan. Sudah tidak terlihat lagi papan informasi terkait cerita sejarah situs tersebut. Tidak ada lagi pagar pembatas di pinggir area situs, dan juga tidak ada lampu penerangan di malam hari.

Bupati Blora Arif Rohman juga mengatakan akan menata situs Ngloram sebagai destinasi wisata religi. Sebagai gambaran, situs ini berada pada lahan kosong yang terletak di pinggiran pemukiman penduduk dan areal persawahan. Tidak jauh dari Bandara Ngloram. Karena tak terawat, suasana di sana nampak tintrim atau menakutkan.

SITUS WORA WARI NGLORAM #situspurbakala #ngloram #kratonworawari  #bpcbjawatengah - YouTube

Di lokasi terdapat batu bata kuno yang berserakan dan bertumpuk di satu lokasi. Batu bata yang dikumpulkan sejak tahun 2000 itu berukuran 20 x 30cm dengan tebal sekitar 4 cm. Bahkan di lokasi itu juga pernah ditemukan keramik serta peralatan perunggu yang kini temuan itu tersimpan di rumah artefak Blora.

Terpisah, Pamong Budaya Madya Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Deni Wahyu Hidayat mengatakan, lokasi Situs Ngloram sudah dilakukan pendataan dan inventarisasi.

 

 


LOKASI