Serabi Kalibeluk adalah salah satu kuliner tradisional khas Batang yang sayang untuk dilewatkan. Memiliki bentuk besar dan rasa autentik, panganan ini telah menjadi ikon kuliner yang wajib dicicipi saat mengunjungi Kabupaten Batang. Berikut panduan untuk menikmati Serabi Kalibeluk, mulai dari proses pembuatannya hingga lokasi terbaik untuk mencicipinya.
Serabi Kalibeluk / Visit Jawa Tengah
Sejarah dan Keunikan Serabi Kalibeluk
Serabi Kalibeluk adalah jajanan tradisional yang telah ada sejak lama di Desa Kalibeluk, Kabupaten Batang. Berbeda dari serabi pada umumnya, serabi ini memiliki ukuran besar, mencapai diameter 10 cm dengan ketebalan yang cukup tebal, menyerupai Bika Ambon dari Medan. Dengan tekstur berongga dan bentuk setengah lingkaran, Serabi Kalibeluk juga menawarkan dua varian rasa: gurih dengan cita rasa kelapa yang khas, dan manis dari gula aren atau gula merah.
Daya tarik lain dari Serabi Kalibeluk adalah keasliannya yang dipertahankan turun-temurun. Berdasarkan cerita turun-temurun dari Mbah Mundhari, sang pewaris serabi, ada amanat yang berbunyi “ojo diowah-owah rasane” atau “jangan diubah-ubah rasanya.” Karena itulah, rasa Serabi Kalibeluk tetap orisinal hingga saat ini, hanya ada rasa gurih dan manis, tanpa perubahan.
Proses Pembuatan Tradisional yang Sarat Makna
Keunikan Serabi Kalibeluk tidak hanya terletak pada rasa dan bentuknya, tetapi juga pada proses pembuatannya yang masih tradisional. Mulai dari penumbukan beras hingga penggunaan tungku kayu bakar, semua dilakukan secara manual untuk menjaga cita rasa khas. Berikut tahapan pembuatan Serabi Kalibeluk:
Setiap keluarga pembuat Serabi Kalibeluk biasanya membutuhkan sekitar 100 kg beras per minggu untuk produksi, dan pembuatan dilakukan dengan sangat hati-hati agar kualitas tekstur empuk dan gurih tetap terjaga.
Serabi Kalibeluk / Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Batang
Tempat Menikmati Serabi Kalibeluk di Desa Kalibeluk
Jika ingin mencicipi serabi langsung dari tempat asalnya, Anda bisa berkunjung ke Desa Kalibeluk yang mudah diakses dari pintu keluar tol Warungasem, Batang. Setiap pagi, penduduk setempat membuka lapak di depan rumah mereka untuk menjajakan serabi, biasanya mulai pukul 06.30 WIB.
Untuk pengunjung yang tidak bisa datang pagi, Serabi Kalibeluk juga bisa ditemukan di Pasar Warungasem. Namun, karena semakin sedikit pedagang yang menjualnya, serabi ini bisa dibilang cukup langka, terutama di kalangan generasi muda.
Inovasi dan Kreasi untuk Kaum Muda
Guna menjaga eksistensi Serabi Kalibeluk di era modern, berbagai upaya dilakukan untuk menarik minat kaum muda. Kini, Serabi Kalibeluk dapat dinikmati dengan tambahan topping seperti keju, meses, atau varian lainnya yang lebih kekinian. Walau tanpa topping tambahan, serabi ini sudah nikmat disantap, terutama sebagai camilan sore atau teman ngopi di musim penghujan.
Serabi Kalibeluk / Metro Pekalongan - Jawa Pos
Harga dan Porsi Serabi Kalibeluk
Serabi Kalibeluk dijual dengan harga terjangkau, yaitu sekitar Rp13.000 untuk satu tangkup (dua loyang serabi) yang bisa dinikmati dua hingga tiga orang. Dengan tekstur renyah di bagian bawah dan empuk di bagian dalam, Serabi Kalibeluk cocok sebagai camilan untuk dinikmati bersama keluarga. Harga ini menjadikan Serabi Kalibeluk sebagai pilihan kuliner yang murah namun kaya rasa.
Menjaga Warisan Kuliner Daerah
Pemkab Batang bersama masyarakat setempat terus berupaya memperkenalkan Serabi Kalibeluk dalam berbagai acara besar. Salah satu yang menarik adalah adanya tarian tradisional yang menceritakan asal-usul serabi ini, sehingga pengunjung juga bisa menikmati seni dan budaya khas Batang. Bagi yang berkunjung ke Kabupaten Batang, kurang lengkap rasanya jika tidak mencicipi Serabi Kalibeluk sebagai bentuk dukungan untuk melestarikan kuliner khas daerah ini.
Serabi Kalibeluk bukan hanya makanan, tapi juga bagian dari warisan budaya yang mencerminkan cita rasa dan tradisi masyarakat Batang. Jadi, pastikan Anda mencoba serabi ini ketika berada di Batang dan turut menjaga eksistensi kuliner tradisional yang otentik ini!
Baca Juga :