PEMPEK KAMSOLI : PEMPEK DARI SEMARANG YANG PUNYA KHAS RASA BERBEDA DARI PEMPEK PALEMBANG

Artanti Wulansari dan Dedi Kuswara, pemilik dari Pempek Kamsoli
Artanti Wulansari dan Dedi Kuswara, pemilik dari Pempek Kamsoli / TribunJateng.com

Tak hanya Palembang, Kota Semarang juga mempunyai pempek khas yang rasanya berbeda dengan pempek buatan Palembang. Pempek tersebut bernama Pempek Kamsoli by mang Dedi.

Pempek Kamsoli merupakan kepanjangan dari Kampung Ndeso Pinggir Kali tersebut dimasak oleh Artanti Wulansari dan sang suami Dedi Kuswara, asli orang Palembang yang sekarang tinggal di Bendan Duwur, Gajah Mungkur Semarang.

Mereka membuat beberapa varian pempek diantaranya pempek kapal selam, lenjer dan juga pempek cordon blue. Tiga varian pempek tersebut hanya ada satu-satunya di Kota Semarang. 

"Ini varian baru ada di Kota Semarang, memang kita sesuaikan dengan yang tradisional dan kekinian," jelasnya.

"Berawal dari lima tahun lalu, kami belum bisa menemukan pempek yang cita rasanya seperti di sana (Palembang). Karena itu kami berfikir untuk membuat sendiri, dan ternyata pasar suka," jelasnya lagi.

"Saat saya cari itu ternyata tak ada bahan baku buat pempek di Kota Semarang, akhirnya saya buat sendiri," katanya. 

Dia tak menyangka jika pempek hasil buatannya itu ternyata disukai oleh pembeli karena mempunyai rasa yang berbeda dengan pempek di Palembang. Untuk itu, dia menjual pempek buatannya itu ke masyarakat luas. 

Awalnya pempek tersebut menggunakan nama Mang Dedi, nama suaminya. Namun setelah kampungnya menjadi kampung tematik Kamsoli, akhirnya disematkanlah 'Kamsoli' itu ke dalam nama pempeknya.

Untuk varian kekinian, pempek yang mengusung tagline 'Teraso nian iwaknyo' tersebut mengkombinasikan keju pada olahannya. Artanti menyebut untuk Pempek Cordon Blue ada isian daging asap dan keju. Sedangkan pempek bom berisikan potongan cabe rawit, keju dan daging asap pula.

Pempek Kamsoli Teraso nian Iwaknyo - Tribun Jateng

Pempek kekinian yang dikembangkan Artanti dan suaminya, Dedi Kuswara dimulai sejak empat tahun lalu. Pempek Kamsoli dibanderol mulai Rp4 ribu dan dapat dipesan melalui aplikasi online. 

"Keuntungan jika menggunakan aplikasi tersebut, yakni konsumen akan mendapat harga yang lebih murah," ujarnya. 

Dalam satu bulan dari hasil menjual pempek itu dia bisa untung sekitar Rp6 juta selama pandemi. Bahkan, dalam satu bulan pempek buatannya itu bisa laku ratusan lebih paket pempek. 

"Biasanya kalau paketan lebih murah harga timbang beli satuan," ujarnya. 

Bahkan, tak jarang dia juga jual pempek buatannya itu ke luar kota. Beberapa terakhir, dia juga sempat mengirim pempek ke Bali. Dia berharap pandemi segera berakhir agar dia bisa bebas berjualan. 

 

 


LOKASI