Siapa tak kenal dengan wilayah Tumang? Daerah penghasil logam ini adalah salah satu dukuh yang ada di Desa Cepogo, Boyolali. Kawasan ini bisa ditempuh dari jalur Solo-Selo-Boyolali (SSB), tetapi bisa juga ditempuh melalui jalur Boyolali-Ampel ke arah barat.
Ada cerita menarik yang ada di dukuh tersebut sehingga hingga saat ini kawasan itu menjadi kawasan penghasil produk ekspor unggulan. Menurut cerita warga setempat, pada masa pemerintahan Mataram Hindu, kawasan hutan belantara yang berada di lereng Gunung Merapi ini adalah tempat pembakaran mayat. "Tepatnya waktu itu sekitar abad sembilan," kata Kades Cepogo, Mawardi, belum lama ini.
Nama Tumang sendiri diambil dari nama atau sebutan untuk makhluk halus, Hantu Kemamang. Hantu Kemamang, menurut masyarakat saat itu selalu muncul saat ada aktivitas pembakaran mayat. Tepatnya saat sumber api menyala.
"Dari situlah muncul nama Tumang." Tetapi, bagaimana ceritanya sehingga kawasan kini berubah menjadi daerah penghasil logam khususnya tembaga?
Saat itu sekitar tahun 1930, ada titah dari Raja Paku Buwono X (PBX) yang saat itu datang ke kawasan Tumang untuk mencari salah satu pusaka keraton yang hilang. PB X datang ke tempat tersebut karena kabarnya pusaka keraton itu ada di sekitar Makam Kyai Ageng Rogosari.
Saat ritual pencarian pusaka itu dilakukan, PB X pun melihat aktivitas warga di wilayah Tumang. Saat itu, Tumang sudah bukan lagi sebagai tempat pembakaran mayat tetapi sudah berubah menjadi sebuah kawasan yang berperadaban.
Saat pemerintah kolonial Belanda masuk ke kawasan Tumang, warga di Tumang mulai membangun peradaban. Masyarakat mulai membangun rumah, membuka ladang pertanian dan perkebunan. Kemudian, masyarakat Tumang juga memanfaatkan kabel-kabel berbahan tembaga dibuat menjadi alat dapur dengan cara dicor, ditempa dan dibentuk.
Melihat pembuatan alat dapur dari Tembaga ini, PB X pun berpesan kepada masyarakat setempat agar aktivitas itu diteruskan karena akan menjadi rezeki bagi Tumang. "Bunyi titahnya demikian, 'Terusno, sesuk bakal dadi dalan rezekimu'," kutip Mawardi.
Masyarakat Tumang pun menjalankan titah tersebut. Hingga saat ini, masyarakat Tumang bisa berkembang menjadi pusat atau sentra produksi kerajinan berbahan dasar logam tembaga, termasuk aluminium, besi dan kuningan. Tidak hanya alat dapur yang bisa dibuat, tetapi juga kerajinan bentuk lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi bahkan bisa menembus pasar ekspor.
Berbagai produk tembaga yang dijajakan dan paling laku saat ini berkisar produk seperti hiasan dinding, lampu, kubah masjid, monumen dan barang lainnya yang sejenis. Meskipun begitu, saat awal-awal penduduk setempat memiliki kemampuan mengolah tembaga, produk-produk yang dikerjakan berkisar peralatan rumah tangga seperti peralatan dapur.
Menarik untuk mengetahui bagaimana desa yang satu ini bisa menjadi sentra pengrajin kerajinan tembaga. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejarah sentra kerajinan Tembaga desa Tumang ini berawal dari masa lampau sebelum ada berbagai peralatan modern saat ini. Untuk lebih mengetahuinya, berikut informasi yang dirangkum oleh tim redaksi Copper Leluhur.
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Desa Tumang bukanlah tempat dimana bahan tembaga berasal. Desa ini hanya menjadi sentra kerajinan tembaga dimana penduduk setempat memiliki keahlian secara turun temurun untuk mengolah bahan tembaga menjadi berbagai produk kerajinan. Sedangkan asal bahan tembaganya berasal dari berbagai daerah penghasil tembaga di Indonesia seperti : Papua, Wonogiri (Tirtamoyo), Cikotok (Jawa barat), Sangkaropi (Sulawesi Selatan), Silungkang (Sumatera Barat), Sanaman Mantikei (Kalimantan Tengah) dan Sulawesi Utara.
Keberadaan Desa Tumang sebagai sentra kerajinan tembaga, tidak lepas dari sosok Pangeran Rogosasi yang merupakan salah satu anak dari Raja Mataram Kuno. Menurut cerita daerah setempat, Pangeran Rogosasi diasingkan ke lereng Gunung Merapi karena memiliki cacat tubuh dengan kondisi wajah yang buruk. Pangeran Rogosasi dititipkan dan dirawat Kyai Wonosegoro hingga dewasa dan dapat hidup mandiri.
Setelah Pangeran Rogosasi mampu mandiri, kemudian beliau merintis dan membangun sebuah wilayah yang diberi nama Desa Tumang. Untuk mengembangkan wilayahnya, ia dibantu oleh empat abdi keraton untuk menjadi “guru” bagi warga desa. Masing-masing abdi tersebut memiliki keahlian berbeda. Ada yang pandai membuat keris sekaligus kerangkanya, ahli membuat pakaian dari bahan perak, ahli dalam menjahit, dan ahli dalam membuat peralatan dapur dari bahan tembaga.
Dari keempat keahlian yang diajarkan para abdi dalem keraton pada warga Tumang tersebut, hingga kini masih tetap lestari. Di Desa Tumang sendiri, selain terkenal dengan kerajinan tembaga dan kuningan, disini juga masih ada beberapa warga yang menekuni membuat warangka keris, kerajinan perak, dan bekerja di produksi garmen.
Baca Juga :