SESAJI REWANDA, TRADISI MENJAGA KESEIMBANGAN ALAM DAN NAPAK TILAS SUNAN KALIJAGA DI GOA KREO

Kera Berebut Gunungan: Salah satu kera penghuni hutan Kreo saat mengambil sesaji gunungan buah buahan dalam acara Sesaji Rewanda di Kandri.
Kera Berebut Gunungan: Salah satu kera penghuni hutan Kreo saat mengambil sesaji gunungan buah buahan dalam acara Sesaji Rewanda di Kandri. / @WahidUnited

Di saat sang surya masih malu menampakan sinarnya, warga RW 03 Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, sudah sibuk menyiapkan bungkusan nasi.

Nasi berisi lauk tahu, tempe dan ikan asin yang dibungkus daun jati ataupun daun pisang itu, dipersiapkan untuk ritual Sesaji Rewanda yang akan dilaksanakan di puncak bukit yang ada di Obyek Wisata Goa Kreo.

Tak hanya bungkusan nasi, bahkan sedari pagi, warga juga menyiapkan gunungan hasil bumi untuk dibawa untuk Sesaji Rewanda. 

Puncak prosesi Sesaji Rewanda, dengan cara menata sesaji dan berdoa di batu tetenger yang ada di puncak bukit Goa Kreo yang dilakukan masyarakat Talun Kacang Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Sabtu (15/5/2021).

Puncak prosesi Sesaji Rewanda, Sabtu (15/5/2021). (budi susanto)


Pemerintah Kota Semarang berhasil mengemas tradisi budaya Sesaji Rewanda menjadi atraksi wisata nan apik dan unik bagi wisatawan yang bertandang ke Goa Kreo.

Perjalanan Sunan Kalijaga mencari soko guru (tiang utama) untuk dijadikan penopang Masjid Agung Demak menorehkan jejak dan menjadi tradisi di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Tradisi itu bernama Sesaji Rewanda (Jawa: Sesajen Rewondo).

Sesaji Rewanda berasal  dari dua kata dalam bahasa Jawa. ?Sesaji? artinya pemberian makanan sebagai persembahan, penghormatan atau untuk tujuan yang berhubungan dengan agama, sedangkan ?rewanda ? berarti kera. Dengan demikian Sesaji Rewanda berarti pemberian makanan sebagai persembahan atau penghortmatan kepada kera yang menghuni hutan di sekeliling Goa Kreo. 

Dalam cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Talunkacang Kalurahan Kandri, Goa Kreo dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga. Kisahnya bermula dari usaha Sunan Kalijaga untuk mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. 

Pada saat Sunan Kalijaga beristirahat di sebuah goa,ia didatangi oleh empat ekor kera (rewanda) yang masing-masing berwarna merah, putih, hitam dan kuning. Keempat kera ini membantu Sunan Kalijaga untuk mengambil kayu jati yang melintang di tebing di bawah goa. 

Mereka berusaha mengambil kayu jati itu, namun karena sulitnya medan akhirnya Sunan Kalijaga memutuskan untuk memotong kayu jati itu menjadi dua bagian. Satu bagian ditinggal di sungai dan satu bagian lainnya dibawa ke Demak untuk dijadikan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak. 

Bagian kayu yang ditinggal di sungai oleh masyarakat setempat diyakini sebagai badan dari Kedung Curuk. Kedalaman kedung ini sekarang mencapai 15 meter dan dihuni berbagai jenis ikan air tawar. Keempat kera penunggu goa tempat Suanan Kalijaga beristirahat itu dapat berbicara layaknya manusia. Sebelum keempat kera itu meninggal, mereka meminta Sunan kalijaga menyampaikan pesan kepada masyarakat di sekitar goa agar memelihara goa itu hingga ke anak cucu dan tidak melupakan keempat warna yang melambangkan kehidupan. 

Permintaan itu dikabulakan oleh Sunan kalijaga. Ia berpesan kepada masyarakat di sekitar goa dengan mengatakan ?reha? artinya ?peliharalah?. Kata ?reha ? kemudian berkembang menjadi ?krea? dan dijadikan nama goa menjadi Goa Kreo sampai sekarang. Setelah mendapat pesan tersebut masyarakat setempat berusa memlihara Goa Kreo dengan cara menata lingkungan dan menanami daerah itu dengan tanaman buah dan sayur. 

Sesaji Rewanda, Tapak Tilas Sunan Kalijaga di Goa Kreo -  VenueMagz.comVenueMagz.com

Mereka juga melakukan upacara Sesaji Rewanda yaitu dengan memberikan makanan berupa buah-buahan dan berbagai hasil bumi serta memasang umbul-umbul berwarna merah, putih, hitam dan kuning di mulut Goa Kreo untuk menghoramati jasa para kera yang telah membantu Suanan Kalijga.

Dalam pelaksanaannya, warga berkumpul di salah satu Masjid yang ada di Talun Kacang, kemudian membawa sesaji berupa bungkusan nasi dan hasil bumi dengan cara jalan kaki menuju bukit yang ada di Goa Kreo.

Doa-doa pun dilantunkan saat mengarak sesaji yang nantinya dibagikan ke warga, dan monyet ekor panjang yang mendiami kawasan Goa Kreo.

Sekitar pukul 07.00 WIB, warga Talun Kacang memulai prosesi Sesaji Rewanda yang dipimpin para sesupuh.

Perjalanan yang mereka tempuh hampir mencapai 2,5 kilometer, ke tempat yang biasanya digunakan untuk prosesi acara adat tersebut.

Sesampainya di atas bukit, kawanan monyet ekor panjang sudah menunggu sesaji yang dibawa oleh warga.

Meski demikian, warga Talun Kacang tak langsung membagikan sesaji tersebut, melainkan menata sesaji mengelilingi batu tetenger, yang dipercaya masyarakat sebagai tempat Sunan Kalijaga semedi, dan bertemu empat monyet berwarna hitam, putih, merah dan kuning.

Usai ditata, warga Talun Kacang kembali melantunkan doa-doa diiringi dendangan tembang dolanan Jawa yaitu Lir Ilir.

Tak begitu lama, monyet ekor panjang pun semakin bertambah banyak, dan menunggu sesaji dibagikan. 

Usai prosesi selesai, warga yang mayoritas mengenakan masker di tengah pandemi Covid-19 itu, mulai mengambil nasi bungkus maupun hasil bumi secara tertib. 

Sembari menikmat nasi bungkus yang sering disebut masyarakat sekitar Nasi Ketek atau nasi monyet. Beberapa warga juga memberikan bungkusan nasi tersebut ke kawanan monyet ekor panjang. 

Alhasil di puncak Sesaji Rewanda, warga Talun Kacang dan ratusan monyet ekor panjang, menikmati nasi bungkus dan hasil bumi bersama-sama. 

Dijelaskan Danu Kasno, Ketua RW 03 Kelurahan Kandri, yang ikut memimpin pelaksanaan Sesaji Rewanda, lewat prosesi tersebut warga ingin menjaga tradisi para leluhur. 


LOKASI